Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Juli 2013

Memoar



siapa yang paling bertanggung jawab atas ingatan?
kau tidak pernah menyinggungnya samasekali
sementara aku terus subur dalam bayang-bayang ingatan
maukah kau sejenak kuajak mampir pada kenangan?
di mana hanya ada kisah-kisah lucu tentang kita
di perempatan jalan memburu bahasa senyum
di emperan toko buku merebahkan ketegangan
tapi dalam hati kita saling berbisik
tentang kisah yang sekarang menjelma ingatan

masih ingatkah tentang burung-burung yang mendadak terbang
oleh hentakan kakimu yang diiringi gelak tawa?
atau para pengemis yang meletakan mangkuk sayur
dan tanpa sengaja kutendang.
semua itu kusebut sebagai lirik memoar

tapi bukan itu, ucapmu
itu hanya serpihan kenangan
di sana ada satu kejadian yang tak pernah musnah
kau membetulkan kerudungmu, aku masih menulis ini
kenangan itu adalah bisikan hati yang tak sampai
dan aku berhenti menulis …

Minggu, 28 April 2013

/

Tuhan, aku menghadap-Mu dengan wajah paling dungu, darah paling kotor, jiwa paling kerdil, 
 hati paling busuk. Tuhan, banyak orang ingin jadi Tuhan. Tapi aku ingin jadi hamba selamanya. 
Hamba yang pasrah, karena pada kepasrahan itulah hakikat kehidupan. Aku tahu Tuhan tidak muluk-muluk bukan? Tuhan hanya mau hamba-Nya pasrah, hamba menjadi hamba, bukan sok menjadi Tuhan. Apalagi menggurui Tuhan. Oh Tuhan, manusia dibuat untuk salah dan khilaf, lalu tobat. Dan usaha menuju tobat itu yang Engkau ganjar, bukan hasil tobat. Sebab manusia hanyalah seekor hewan berakal, bukan sekumpulan malaikat. Maka lewat tulisan ini aku datang ke rumah-Mu sebagai manusia yang kotor, manusia yang jijik. Tuhan, pada siapa lagi aku mengadu?

April 2013

Musim Dingin dan Kenangan


Apa yang kau pikirkan tentang musim dingin? Apakah sekedar angin yang menusuk tulang, suhu paling rendah, air seperti salju atau justru selaksa kabut awan? Kalau cuma itu jawabannya, aku tidak sependapat. Masih ada yang terlupa, yaitu kenangan. Dia selalu datang bersama musim dingin. Selalu.

Kalau kau menyanggah lalu berkata bahwa kenangan akan datang di musim apasaja, termasuk di musim panas. Mungkin benar. Tidak harus menunggu musim dingin, kenangan pun pasti datang tatlakala bertemu sesuatu yang menghubungkannya. Namun aku ragu kalau itu samasekali tak sebanding dengan kenangan di musim dingin. Tak seberapa! Dan selama perjalanan hidup ini, aku sadar, hanya kenangan di musim dingin yang patut diperhitungkan!

Mungkin aku akan kerepotan kalau ada yang menanyakan detil tentang jenis kenangan itu. Apakah semua yang dianggapnya kenangan? Atau kenangan yang berhubungan dengan perempuan saja? Atau, atau ada hal lain?. Entahlah, aku tak dapat merincinya.  Tapi aku samasekali tidak membedakan jenis kenangan, barangkali yang kumaksud adalah kenangan yang melahirkan tulisan. Kenangan yang kalau diingat akan menyuruh kita menulis. Menulis apa saja, cerpen, sajak, puisi atau pun prosa. Ya, kenangan semacam itu.

Itulah muasal kenapa musim dingin gandrung dengan katakata. Pada awalnya ialah sekotak kenangan, yang setiap orang selalu ingin mengabadikan kenangan dalam hidupnya. Sedangkan tak ada alat sehebat apapun untuk merekam kenangan, kecuali sebuah tulisan. Ya, kecuali katakata. Ia abadi sepanjang masa. Melebur bersama semesta. Bukan kenangan kalau ia sendiri tanpa tulisan. Tanpa tulisan pun kenangan hanya sekedar bualan!

Desember 2012

#sebuah siang 1


di sebuah siang pipimu berdebu. bercampur peluh, mengeluhi waktu.
kapan segoresan kuku berslancar membentuk garisgaris lurus,
bercerita tentang hingarbingar hidup, panas yang ganas, dan mimpi yang tak pernah padam.

gelombang rambut disapu angin. hitam terurai. bagai selaksa surga di pucuk mata.

kau tak kenal lelah, membiarkan harihari melukaimu. kau merenung di siang hari.
saat orangorang ribut menagihi hidup, kau malah tersipu di balik kerlingan alis.

kau rindu seseorang bukan?

orang yang mengantarmu bolakbalik, diatas gerbong kereta terkekeh dengan sepuntung bara.
menggantung seperti monyet lalu kembali dengan  karcis dan dua bungkus es kelapa.
dia kurus memang, tapi cukup kuat untuk menahan kerumunan orang saat mereka menghujamimu dengan desakan, selepas turun di peron, kau tampak keheranan.

sekedar nostalgia, kau kembali meracuni rasa dengan purapura bahagia, padahal luka tak terkira perihnya.

di sebuah siang. ingin sekali kuusap pipimu yang tak lagi rona.

 Juli 2012.

Apa Itu Pagi?


udara sejuk mengisahkan burung-burung pipit

yang menyudahi mimpi dengan mengasingkan sarang

embun menetes dari bibir daun yang lugu

dahan dan ranting saling menyindir angin

kau duduk di bawahnya menanti sepucuk pagi

dengan kabut rindu yang kian tebal, kenangan yang menjelma awan

aku datang dari timur membawa bingkisan surya

menyilau wajahmu yang mulai lesu, membasuh keragua-raguan jemu

kini kita tengah duduk bersama: saling bertanya, apa itu pagi?

Januari 2013

Perempuan Kenangan

berawal dari sebuah kereta yang menuju rumahmu
aku lupa mengabari waktu, begitu rasa terlanjur jatuh
pada perempuan yang gemar menyusun kenangan
di jantungnya ratusan tibu ingatan bugil di bawah hujan

kini aku telah sampai di stasiun hatimu
dengan bekal rindu yang tak kenal waktu
perjalanan adalah oleh-oleh termahal
pernah kucuri senja di belantaran pantai
tapi aku lupa membawa kenangan


Rabu, 12 Desember 2012

Nyanyian Bisu Biolaku



Malamku:
aku takut kehilangan malamku/kehilangan segala kesunyian/gelap yang membujur sepi/rembulan yang indah menggelantung di bibir langit/dan kejora bintang bertaburan/aku takut malamku dibakar mentari/sementara kopi masih menyisakan banyak katakata/atau rokok terakhirku yang penuh gelora/malamku adalah hidup yang penuh kedamaian/seteguk rindu akan gugur olehnya/hembus angin akan melenyap gelisah/dan akan lahir banyak cerita/malamku seperti wajah kekasih yang selalu kau gumamkan/tersemat dalam setiap doa/tapi malamku akan tetap berlalu/subuh akan membangunkan segala kenikmatan/malamku harus pergi memikul beban pagi/mungkin aku terlanjur mencintai malam/sehingga tak ada ruang untuk seseorang/atau rembulan sudah menutupnya rapat/

Nyanyian Bisu Biolaku:
aku tergeletak di atas meja bersama tumpukan buku/kadang berdebu lalu kau hanya bersihkan/satu-dua kepinding mengintip dari balik lembaran kusam/kau masih asik dengan kepulan asap/sebatang-dua-tiga kini tinggal puntung di kotak asbak/kau keasikan menulis kehidupan/seperti aku kau campakan/tuts-tuts itu telah merampas jarimu/jari yang pernah meremas leherku/memainkan setiap denting senarku/lalu sekarang aku hanya berdiri/menatap sepi/melihat kau yang semakin kurus dimakan kenangan/tertawa meledeki nasib malam/sementara aku kau biarkan/menangis tanpa nada/bisu tanpa suara/lalu kapan kau do-re-mi-kan?.

Rindu:
rindu adalah musim semi yang sendu/seperti jarak yang memutus kenangan/di sini tak ada hujan/sehingga daun-daun itu menjelma wajahmu/mungkin aku adalah gerimis yang selalu kau tadah/rindu juga goresan nada yang menyayat/selalu mendebarkan/apakah di sana cukup memandang rembulan?/sedang aku meninggalkan banyak sajak/rindu adalah kenikmatan sekaligus penderitaan/aku ingat kau menjatuhkan senyum/sekarang aku kehilangan separuh jiwa/jangan pernah berkata kapan kita bersua/cukup pejamkan mata lalu aku ada di jangtungmu/ sekarang juga!/

Kota Kenangan:
seiring angin berhembus melewati pagar musim/lalu dermaga yang memuat butir kenangan itu mulai menengah/cepat kau basuh mimpi!/kita akan segera jemput rembulan/merendamnya sampai relung palingdalam/mungkinkah aku rindu pada Nil yang tenang dan diam/tapi kamu enggan bertemu anjing-anjing bodoh itu/atau bau bacin di sepanjang jalan/ padahal ini adalah kota kenangan/kota yang hujan katakata/kau selalu sematkan doa/sedang aku hanya menulis sajak tentang kau dan kota kenangan ini/

Cinta:
jangan kau tanya apa itu cinta/sebab aku tak sanggup menjawab/disana ada ribuan bahkan jutaan makna/senyum yang mengembang di taman sama dengan air mata yang kau tumpahkan di kamar/cinta bukan logika, lalu apa?/entahlah!/cinta bukan apa dan siapa/cinta hanya kerumitan kata/barangkali sedikit bisa disentuh rasa/itu pun entah rasa yang mana/cinta memang bulat!/itu sebabnya aku lebih suka menghitung bintang daripada menjawab pertanyaanmu, apa itu cinta?/

Gerimis:
kau adalah gerimis yang jarang kutemui di kota ini/bahkan setahun hanya dua kali: sebagai awal bergantinya musim/lalu malam ini mendadak gerimis turun membawa namamu/setiap tetesnya membentuk siluet wajahmu/entah gerimis kali ini datang darimana/langit tak mendung/tapi sekuntum mawar basah oleh air kenangan/sedangkan udara begitu menyejukan/kau telah lama membuat taman di jantungku/kau juga telah sekian lama tak menyiramnya/hingga tumbuh duri-duri menyakitkan: kembang-kembang kepiluan/lalu malam ini gerimis datang/aku harap ini airmata yang kau kumpulkan/untuk membayar segala kepedihan/

Kairo, 2012.